Begawe, Kebersamaan Ala Suku Sasak

  • 4
  • 1508
© Image opsintb.com

Semangat gotong royong adalah marwah begawe. Kebersamaan dan kekompakan terlihat begitu nyata ketika hari pelaksanaan.

JAKARTA (12/11/2022), Gotong royong adalah bagian penting dalam masyarakat suku Sasak. Tradisi gotong royong ini disebut begawe. Dikutip dari pusakantb.wordpress.com, begawe dalam istilah bahasa Sasak berasal dari dua kata yaitu: bega dan gawe. Bega artinya bodoh dan gawe artinya bernilai atau bermanfaat. Sehingga begawe diartikan oleh suku Sasak suatu kegiatan menghambur-hamburkan harta namun mempunyai banyak nilai.

Secara aplikasi, begawe adalah kegiatan bahu-membahu untuk melancarkan acara atau hajatan mulai dari persiapan hingga acara selesai. Kegiatan begawe biasanya dilakukan oleh kalangan keluarga, kerabat, tetangga hingga warga dusun dari epen gawe (orang yang memiliki acara). Tidak hanya acara merarik (pernikahan) yang menggunakan tradisi ini, tetapi acara-acara seperti nyunatang (sunatan/khitanan), ngurisang (aqiqah), bahkan mate (kematian) menggunakan tradisi begawe.

Uniknya, pada tradisi begawe menggunakan sebutan-sebutan tertentu untuk membagi tugas, seperti aman gawe (orang yang mengontrol jalannya acara), ran (tukang masak), inan nasiq (tukang menyajikan nasi), aman kupi (orang yang menyiapkan minuman seperti kopi dan minuman lainnya), dan masih ada sebutan lainnya. Bahkan, tamu yang diundang juga mempunyai sebutan tersendiri, yaitu dipesilaq.

Dikutip dari Opsintb.com, tokoh masyarakat sekaligus ran, Amaq Winda mengatakan, begawe sudah dilakukan sejak dulu, dan menjadi tradisi masyarakat Sasak Lombok sampai saat ini. Disebutkannya, begawe dilakukan dengan cara memasak makanan yang cukup banyak, untuk keluarga maupun tamu undangan yang datang. Dalam hal ini juga katanya, tamu undangan yang datang membawa beras dan mie dengan wadah baskom dibungkus kain.

"Orang yang datang begawe kebanyakan membawa beras beserta mie dibungkus dengan kain. Dan tuan rumah suguhkan makanan yang sudah kita siapkan bersama," katanya. Amaq Winda berharap agar tradisi begawe ini bisa terus dipertahankan.

Semangat gotong royong adalah marwah begawe. Kebersamaan dan kekompakan terlihat begitu nyata ketika hari pelaksanaan. Dari pagi warga sudah berdatangan untuk membantu bekerja, mulai dari mengambil air, membuat santan, memasak lauk yang akan dijadikan hidangan siang bagi para tetamu.

Uniknya, yang mengerjakan pekerjaan seperti memasak dan menjamu adalah laki-laki, baik bapak-bapak yang dalam bahasa Sasak dipanggil amaq dan yang menjamu tamu adalah para remaja. Ibu-ibu hanya ditugaskan untuk mempersiapkan oleh-oleh yang akan dibawa pulang oleh tamu dan mencuci perabotan. 

Chef Lokal

Dikutip dari majelisadatsasak.org, kegiatan masak besar ini dikomandani oleh ran yaitu chef lokal yang berasal dari anggota masyarakat. Ran adalah orang-orang yang menguasai ilmu masakan tradisional Sasak. Terdapat kebiasaan atau etika dalam meminta bantuan pada ran. Sang pemilik hajat akan datang mendatangi rumah ran untuk meminta bantuan memasak beberapa hari sebelum hari pelaksanaan hajatan.

Pada saat mengunjungi ran tersebut, sang pemilik hajat juga akan membawa beras dan selawat (sejumlah uang) yang diberikan kepada ran sebagai tanda permohonan bantuan. Demikian pun setelah selesai acara, pemilik hajat akan kembali memberikan selawat serta beras atau gula kepada ran. Pemberian tersebut merupakan suatu tanda terima kasih serta tanda hubungan harmonis dalam masyarakat.

Acara begawe membutuhkan anggaran biaya yang tidak sedikit karena akan begitu banyak hidangan yang disajikan. Mulai dari lauk yang sering dijumpai di Lombok seperti ares, sayur nangka, gulai, sate pusut, urap-urap, pelecing, hingga kerupuk lendong (kulit sapi). Tak ketinggalan juga berbagai jajanan seperti rengginang, peyek, wajik, cerorot, abuk, hingga pelemeng.

Epen Gawe menyiapkan bahan-bahan materi seperti beras maupun daging dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung, disusul dengan bahan-bahan dan perlengkapan lain yang diberikan oleh kerabat maupun tetangga. Konon, begawe inilah yang menjadi simbol dari nilai harga diri seseorang apabila bisa mengadakan begawe besar-besaran. * PS

Sumber :Majelisadatsasak.org, Opsintb.com, Pusakantb.wordpress.com

 

Prev Post Festival Lima Gunung, Pesta Budaya Petani Magelang
Next Post Prof Philip : Ada Rezeki dari Langit , Saatnya Jadi Pengusaha UMKM
Related Posts
Commnets
Leave A Comment
or

For faster login or register use your social account.

Connect with Facebook