Cak EDI Hadir untuk Masyarakat Digital Indonesia yang Beretika dan Literat

  • 4
  • 176
© Image dok

MALANG (2/09/2023), Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan pertumbuhan media sosial, muncul tantangan baru, yaitu bagaimana menjadikan masyarakat yang literat dan beretika dalam bermedia sosial. Menjawab tantangan tersebut, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Forum Rektor Indonesia (FRI) menggandeng Universitas Airlangga (Unair), mengambil langkah progresif dengan mengembangkan komunitas Cak EDI (Cakap Etika dan Literasi Digital).

Komunitas itu diluncurkan dalam kegiatan Workshop Cakap Etika dan Literasi Digital di Co Working Space G-Space Kota  Malang pada Sabtu ( 2/09/2023) lalu. Komunitas ini dirancang khusus untuk menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda Indonesia, dalam memahami pentingnya etika dan literasi digital.

Tidak hanya sebagai wadah belajar, Komunitas Cak EDI memiliki visi yang lebih besar. Ketua Pelaksana Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) Unair 2023 Eko Supeno, menegaskan bahwa komunitas ini diakui dan didukung penuh oleh Kemenko PMK sebagai bagian dari Aksi Nyata Gerakan Nasional Revolusi Mental dalam Tertib dan Santun Bermedia Sosial dengan menyosialisasikan pentingnya  etika dan literasi digital.

“Komunitas ini dirancang khusus untuk memfasilitasi masyarakat terutama generasi muda. Tentu saja  agar mampu berkomunikasi dengan bijak di ranah digital, memahami cara menyaring informasi, dan mengedepankan etika dalam setiap tindakan mereka,” tutur Eko Supeno.

Ditambahkan Eko, keterampilan etika dan literasi digital saat ini adalah kebutuhan utama. Memiliki etika digital berarti memahami norma-norma yang seharusnya diikuti saat online, seperti menghormati privasi orang lain, berkomunikasi dengan sopan, dan tidak menyebarluaskan informasi palsu atau menyesatkan.

“Sementara literasi digital, di sisi lain, berfokus pada kemampuan untuk mencari, memahami, dan mengevaluasi informasi dari sumber digital. Dalam konteks yang semakin digital dan sering kali anonim, keterampilan ini menjadi penting untuk mencegah penyebaran berita palsu, mengidentifikasi risiko keamanan, dan menjalani kehidupan online yang sehat dan produktif,” urai Eko panjang lebar.

Ditambkannya, teknologi yang sangat cepat dan ketersediaan informasi yang begitu luas, risiko dari informasi yang salah, penipuan online, dan cyberbullying menjadi semakin nyata. Oleh karena itu, memiliki cakap etika dan literasi digital bukan hanya tentang menjaga diri sendiri tetapi juga tentang memberikan kontribusi positif ke masyarakat digital secara keseluruhan.

Game Interaktif

Melalui berbagai pelatihan dan workshop, anggota komunitas diberi kesempatan untuk saling berbagi, belajar dari ahli, dan mengembangkan kemampuan mereka dalam etika dan literasi digital. Cak EDI memiliki visi yang tidak terbatas hanya untuk Jawa Timur.  Eko Supeno yang juga menjabat sebagai Sekretaris Eksekutif FRI berambisi aga inisiatif ini dapat menjangkau seluruh pelosok Indonesia.

Komunitas ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi dan etika di era digital melalui serangkaian kegiatan edukatif. Dalam konteks Indonesia yang memiliki populasi besar dan keragaman yang luar biasa, literasi dan etika digital juga menjadi kunci untuk mencegah polarisasi dan kesalahpahaman.

"Komunitas ini diharapkan mampu mempromosikan dialog yang konstruktif, menghargai perbedaan, dan mendorong pertumbuhan pengetahuan yang sehat dalam masyarakat," imbuhnya seraya mengeaskan bahwa Cak EDI diharapkan tidak hanya mempersiapkan individu untuk dunia digital, tetapi juga memajukan keharmonisan sosial dan perkembangan bangsa secara keseluruhan.

Dalam era modern ini, cara penyampaian materi sangat menentukan efektivitas pembelajaran. Untuk itu, , Agie Nugroho Soegiono merancang pelatihan literasi digital dalam bentuk game interaktif.

 "Ini bukan hanya tentang memahami teori, tetapi juga tentang bagaimana menerapkan ilmu tersebut dalam situasi nyata. Dengan pendekatan ini, peserta diajak untuk lebih aktif, kritis, dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran" ujar Agie.

Menerapkan pelatihan dalam bentuk game interaktif dapat memastikan bahwa peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mengalami dan menerapkan apa yang mereka pelajari dalam konteks yang realistis dan relevan. Sebagai contoh, imbuhAgie, saat ini kita dibanjiri oleh berbagai informasi dari sumber-sumber yang berbeda. Tanpa literasi digital, seseorang bisa mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan atau palsu.

“Di sisi lain, tanpa etika digital, seseorang mungkin tanpa sadar menyebarkan informasi yang tidak benar atau bahkan merugikan orang lain. Kombinasi dari kedua keterampilan ini sangat vital untuk disampaikan secara interaktif demi meningkatkan retensi dan pemahaman materi, serta menstimulasi minat dan partisipasi aktif dari peserta,” imbuhnya.

“Pendekatan semacam ini sangat penting, terutama ketika kita berbicara tentang konsep-konsep yang seharusnya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti etika dan literasi digital,” pungkas Agie * PS

Prev Post Festival Lima Gunung, Pesta Budaya Petani Magelang
Next Post Di Era Disrupsi, Ormas Islam Diyakini Mampu Wujudkan Visi Indonesia Emas 2045
Related Posts
Commnets
Leave A Comment
or

For faster login or register use your social account.

Connect with Facebook