Museum Artistik Sampah Plastik

  • 4
  • 211
© Image Republika.co.id

Sebuah museum berbahan dasar sampah plastik didirikan relawan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton). Tak hanya untuk wahana edukasi, museum ini sekaligus sebagai panggung aksi protes terhadap negara-negara pengekspor sampah plastik.

JAKARTA (13/09/2022), Pembuatan museum ini berawal dari keprihatinan limbah sampah plastik yang sudah mencemari lingkungan. Dalam museum ini, Ecoton membangun beberapa instalasi plastik, terakhir khusus plastik impor yang baru diresmikan awal Februari 2022 lalu. Museum plastik ini berada di dusun Krajan, Wringinanom, Gresik, Jawa Timur, tepat berada di lahan kosong dekat dengan kantor Ecoton.

Pengunjung yang masuk ke museum ini diajak untuk berpikir ulang mengenai kebiasaan mereka dalam membuang sampah plastik, sekaligus ajakan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dan botol plastik. Museum ini dibuat  dengan bahan baku lebih dari 10 ribu sampah plastik, seperti botol, kantong, sedotan, dan kemasan yang semuanya berbahan plastik. 

Memasuki are museum, berdiri kokoh Dewi Sri sosok dewi mitologi Jawa dengan mengenakan rok panjang yang terbuat dari kemasan dan bungkusan limbah sampah plastik produk rumah tangga. Yang menjadi favorit pengunjung berfoto adalah bagian terowongan yang semuanya berbalut botol-botol plastik. Refleksi cahaya dari instalasi dinding terowongan yang berwarna-warni semakin membuat cantik hasil foto.

"Untuk terowongan museum sepanjang 10 meter dengan ketinggian 33 kaki itu, dibuat menggunakan sekitar 4.444 botol," kata salah satu pendiri museum plastik, Prigi Arisandi seperti dikutip  Medcom.id. Prigi mengatakan, pembuatan instalasi museum plastik yang digunakan dikumpulkan dari tempat pembuangan sampah, serta sungai yang tersebar di beberapa daerah di Jatim.

Menurut Prigi, pencemaran plastik telah menjadi permasalahan yang sangat akut. Masalah sampah plastik menjadi penting di Indonesia, sebagai negara kepulauan yang menempati urutan kedua setelah Tiongkok dalam hal banyaknya volume plastik yang berakhir di lautan. Hal ini dibenarkan  Dari Setyorini, Manager Program di Ecoton. “Saya telah melihat sungai-sungai sudah banyak tercemar sampah mulai dari sampah plastik, kemasan produk rumah tangga, popok, dan masih banyak lagi”, ujarnya seperti dikutip tempo.co.

 

Sampah Impor

Di museum ini, wisatawan juga akan dipandu  dan bisa melihat sekeliling Sungai Brantas menggunakan Perahu Wisata Ecoton. Wisatawan juga dapat berkunjung di aula dan laboratorium Ecoton untuk mengetahui bagaimana proses sampah plastik terurai, dokumentasi dalam mengambil atau memilah sampah di pinggir sungai, dan masih banyak kegiatan yang lain.

Pada awal Februari 2022 lalu, Aeshnina Azzahra Aqilani, akvitis lingkungan cilik   meresmikan museum khusus sampah impor di area  tersebut. Nina, panggilan akrabnya, menyebutkan Amerika Serikat, Italia, Belanda, Jerman, Swiss, Kanada, Australia dan Selandia Baru adalah negara pengespor sampah-sampah plastik tersebut. Pembukaan museum ini mengundang pelajar, aktivis Lingkungan, seniman dan warga

"Dalam museum ini dipamerkan jenis sampah sachet, packaging personal care, packaging produk rumah tangga dan sampah bungkus oli dan makanan yang tercantum made in UK, made in Canada, made in USA dan banyak lagi nama negara maju dalam bungkus sampah," ungkap Azis penggiat lingkungan yang aktif dalam kegiatan bersih-bersih sungai seperti dikutip Tempo.co

Selain memajang sampah luar negeri, dalam museum sampah impor ini juga memamerkan informasi terkait bahaya plastik sekali pakai. "Museum ini bisa dikunjungi oleh siapa saja dan bisa menjadi tempat untuk berdiskusi dan tukar ilmu terkait sampah plastik," ungkap Nina yang tak lain adalah puteri dari Prigi Arisandi.

Permasalahan plastik memang sangat mendesak di Indonesia. Data menunjukkan, Indonesia menjadi negara kepulauan yang menempati urutan kedua setelah Tiongkok dalam hal banyaknya volume plastik yang berakhir di lautan. Dilansir dari Facebook Ecoton, temuan Ecoton menunjukkan jumlah mikroplastik lebih banyak dibandingkan plankton.

Yuk sahabat Revmen, sayangi lingkungan kita. Sudah saatnya kita mengurangi pemakaian plastik sekali pakai. #Ayoberubah #GerakanIndonesiabersih * PS

Sumber : Fb Ecoton, Tempo.co, Medcom.id diakses 3 Maret 2022

 

Prev Post Festival Lima Gunung, Pesta Budaya Petani Magelang
Next Post Korpri Gandeng ESQ Wujudkan Revolusi Mental ASN
Related Posts
Commnets
Leave A Comment
or

For faster login or register use your social account.

Connect with Facebook