Relasi para Influencer dengan Generasi-Z di Era Digital

  • 4
  • 99
© Image Int

JAKARTA – Gen Z merupakan tipe generasi yang memiliki keunikan pada level bangunan relasi mereka yang bisa terbentuk dari role model  para influencer media sosial. Penelitian Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Consulting beberapa waktu lalu menampilkan data bahwa Gen Z ternyata memiliki ikatan yang erat kepada figur yang memiliki kesamaan akan nilai serta pandangan hidup. Mereka menempatkan role model sebagai cerminan diri.

Pada realitas yang lain Gen Z sejatinya juga sangat kritis dan sensitif dalam hal bagaimana role model-nya memprofilkan diri di laman publik.

Jika suatu waktu figur yang dijadikan panutan tersebut dianggap palsu, tidak autentik, atau melenceng dari nilai dan pandangan hidup semula, maka Gen Z tak ragu untuk berhenti mengikutinya.

Di era teknologi informasi saat ini, wujud role model bermacam-macam. Salah satunya adalah pemengaruh alias influencer.

Para influencer ini dapat dengan mudah dijangkau di sejumlah platform media sosial, yang merupakan habitat utama Gen Z di dunia digital.

Meski berada di ekosistem yang sama, namun bukan berarti para influencer dengan mudah mempengaruhi Gen Z.

Seperti apa yang telah diulas di awal, Gen Z memiliki standar sendiri soal siapa yang dijadikan role model. Untuk dapat menggaet mereka, influencer harus dapat memenuhi standar-standar itu. Gen Z juga mempunyai rasionalisasi yang spesifik tentang perlu tidaknya mengikuti seorang figur influencer.

Hasil riset UMN Consulting menunjukkan, Gen Z sangat selektif dalam memilih figur. Mereka menginginkan influencer yang memiliki kesamaan nilai ditambah hal-hal yang mereka butuhkan.

Survei menunjukkan, hal yang paling bisa membuat Gen Z mengikuti seorang figur adalah konten yang inspirasional serta pembawaan yang humoris dan menghibur.

Selain itu, Gen Z juga bersedia mengikuti seorang influencer yang memiliki kemampuan tertentu, mampu mengajarkan ilmu baru, serta mengunggah konten yang menenangkan atau mempersatukan.

Dalam survei ini, ditemukan pula fakta bahwa jumlah pengikut di media sosial tidak menjadi penentu Gen Z dalam memilih figur influencer yang dijadikan role model.

Fakta pada survei ini menggambarkan betapa Gen Z tidak memiliki mental FOMO (Fear of Missing Out) di mana jumlah pengikut dan tren menjadi elemen utamanya.

Beberapa factor diatas menunjukkan bahwa relasi yang terbangun antara para Influencer media sosial dengan Gen-Z memilki banyak variable yang mempengaruhi tingkat kedalamannya. Gen-Z dengan rasionalitasnya telah menempatkan influencer sumber patronisme baru yang kritis di tengah pesatnya era digital sekarang ini.

Editor : Ardeni


Prev Post Festival Lima Gunung, Pesta Budaya Petani Magelang
Next Post Kenal Dr. F. X. Sudanto? Si Dokter 2.000 Rupiah Yang Terkenal di Papua
Related Posts
Commnets
Leave A Comment
or

For faster login or register use your social account.

Connect with Facebook