Wayang Uwuh Kreasi Iskandar Hardjodimuljo

  • 4
  • 128
© Image rri.co.id

“Saya suka membuat wayang dari sampah. Saya bisa berinovasi dengan bahan-bahan yang berbeda. Kreatifitas kita jadi tertantang.”

JAKARTA (30/01/2023),  Wayang-wayang kreasi seniman Iskandar Hardjodimuljo ini, bisa dibilang jauh dari kesan elegan dan mewah layaknya wayang tradisional yang biasa dipentaskan dalang-dalang kenamaan. Wayang-wayang Iskandar dihiasi dengan warna-warna cerah dan mentereng, dicat secara serampangan, tidak dipahat dari kulit ataupun kayu, melainkan terbuat dari kertas kardus, karton bekas, limbah botol plastik dan bekas tempat makanan.

Uwuh dalam bahasa Jawa berarti sampah. Demikian, maka wayang-wayang kreasi Cak Is, panggilan akrab Iskandar Hardjodimulyo, merupakan wayang hasil kreasi dari sampah. “Lewat wayang uwuh, ada pesan lingkungan hidup, budaya dan sosial,” katanya seperti dikutip channelnewsasia.com.

“Saya ingin memperkenalkan wayang kepada semua orang, terutama anak-anak. Saya juga ingin mengajarkan bahwa sampah bisa diubah menjadi karya seni dan sesuatu yang mempunyai nilai dan manfaat tinggi,” imbuhnya.

Iskandar memang sudah tertarik dengan wayang sejak kecil dimana Ia lahir dan besar di sebuah kampung di pinggiran Yogyakarta. Namun dia tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang seniman, apalagi seorang pembuat wayang.

“Waktu SMA, saya pernah membuat batik dengan motif wayang. Waktu kuliah, saya sama sekali tidak tertarik mengembangkan jiwa seni saya,” katanya.

Malahan kecintaannya pada dunia seni tumbuh saat dia mulai bekerja sebagai seorang akuntan, sebuah profesi yang ditekuninya selama 25 tahun.

“Saya melukis karena hobi. Saya belajar secara otodidak. Tetapi saya selalu melukis wayang dari dulu, untuk mengenang masa kecil saya. Waktu kecil, saya sering menonton wayang di kampung,” kata Iskandar.

Lambat laun, Iskandar mulai dikenal sebagai satu dari segelintir seniman yang menggeluti seni melukis wayang secara khusus. Di sekitar tahun 2000-an, dia mulai ikut pameran.

“Prosesnya panjang. Tetapi, pada akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seniman,” katanya. Saat itu, Iskandar hanya melukis tokoh-tokoh wayang di atas kanvas. Ia baru membuat wayang pertamanya di tahun 2013.

“Saya ikut pameran Jakarta Biennale. Waktu itu temanya, ‘Seni di Antara Kita.’ Saya waktu itu jadi relawan, mengajar di kampung seni di pinggiran Sungai Ciliwung. Tahun itu banjir besar. Jadi ada banyak plastik, triplek, botol yang hanyut ke kampung tempat saya jadi relawan. Saya langsung punya ide. Saya bisa bikin wayang dari benda-benda ini,” urainya.

Meskipun awalnya wayang uwuh hanyalah sebuah proyek sampingan untuk pameran, karya seni ini kemudian menjadi sebuah obsesi bagi Iskandar.

“Saya suka membuat wayang dari sampah. Saya bisa berinovasi dengan bahan-bahan yang berbeda. Kreatifitas kita jadi tertantang. Sekarang, kalau saya melihat sampah saya langsung berpiki, ini akan jadi apa,” tutur Iskandar seraya mengakui bahwa berkat wayang uwuh, dia diakui sebagai seniman.

Berikan Pelatihan

Walau tak sedikit seniman yang bereksperimen dengan barang-barang bekas, boleh dibilang Iskandar adalah satu-satunya perupa yang mengubah sampah menjadi wayang.  Seiring upayanya mengubah sampah menjadi wayang, dia pun mendapatkan banyak undangan untuk memamerkan karya seninya dan mengadakan lokakarya di luar negeri, mulai dari Thailand sampai Italia.

Di sanggarnya di kawasan Cawang, Jakarta, Iskandar rajin memberikan pelatihan mengubah sampah menjadi wayang. Seperti dilansir rri.co.id, di momentum perayaan imlek beberapa waktu lalu, Iskandar secara khusus juga membuat karya berupa wayang uwuh berwujud naga dengan nama Ontobogo. 

"Naga ini inspirasi karena mendekati hari raya china, imlek ya simbolisme naga. terus ini sekilas saya lihat di wayang kulit gaya jogja terus saya bikin ulang dengan warna khas gaya saya. akhirnya terbentuk seperti ini,” urainya.

Memiliki ciri khas gaya yogja 'gagah gedhe', sentuhan Wayang Uwuh berkarakter naga memiliki warna cerah sesuai dengan pemilihan warna yang menjadi ciri khas Iskandar. Hanya saja lanjut Iskandar, untuk pewarnaan muka wayang dilakukan secara hati-hati karena hal tersebut merupakan perlambang dari suatu simbol.

"Simbolisme dari wayang itu membuat macam-macam karakter. terutama karakter pemarah, sabar, yang satria, dan sebagainya dari wajahnya, dari warnanya dan dari mulut, mata, hidung, dan sebagainya," ucap Iskandar, melanjutkan.

“Meski saya sering diajak ke luar negeri, saya lebih senang mengajarkan anak-anak di Indonesia mengenai wayang dan seni membuat wayang dari sampah. Sekarang, baru saya yang secara rutin membuat wayang dari sampah. Mimpi saya ada banyak seniman-seniman lain yang tertarik untuk mengubah sampah menjadi karya seni sekaligus melestarikan warisan budaya kita,” pungkasnya seraya  berharap kegiatannya ini bisa menginspirasi  setiap rumah tangga memilah sampah.*ps

 

Prev Post Festival Lima Gunung, Pesta Budaya Petani Magelang
Next Post Jokowi : Budaya Gotong Royong, Itulah Negara Kita!
Related Posts
Commnets
Leave A Comment
or

For faster login or register use your social account.

Connect with Facebook